Komunitas, Lebih dari sekedar Berkumpul

Komunitas, Lebih dari sekedar Berkumpul

Bismillahirrahmanirrahim

 

Pernah ngga sih kalian bertanya tentang apa untungnya berkomunitas? Hmmm.. Bisa jadi jawabannya ya atau tidak atau tidak pernah terpikirkan sama sekali. Hari ini akan membahas sedikit tentang untungnya berkomunitas. Tentu saja versi saya dan tak akan panjang.
Pertama-tama, saya ingin bercerita sedikit tentang pertama kali berkenalan dengan sebuah komunitas ataupun organisasi setelah memasuki perguruan tinggi. Yang pertama adalah organisasi himpunan di kampus Teknik Elektro Unhas. Kala itu penerimaan mahasiswa baru dan ada sesi perkenalan tentang komunitas yang ada di jurusan.
Berhubung karena sesuatu dan lain hal, saya kurang begitu memperhatikan dan  tidak aktif di Himpunan meski sesekali hanya membantu apa saja yang dapat saya lakukan. Meski begitu, saya bergabung di beberapa organisasi dibawahnya seperti MADZ (Mushollah Azzarra Teknik Elektro) dan Workshop HME-FT UH. MADZ, seperti namanya di mana kita orang-orang yang bergerak di dalamnya bertugas menjadi pengurus mushollah beserta program-programnya. Workshop sendiri merupakan tempat di mana kita dapat menimba ilmu seputar dunia komputer baik perangkat keras maupun lunak. 
Hal pertama yang saya pelajari di sini adalah tentang teman, komunikasi, dan organisasi. Semasa SMA saya tidak sempat memperoleh banyak ilmu organisasi. Barulah ketika kuliah saya betul-betul merasakannya. 
Selama ini saya adalah orang yang cukup kurang dalam hal pertemanan. Agak susah memperoleh teman karena sifat pendiam dan kalem (alahh… ). Meski sifat ini masih saja sama dan terbawa saat kuliah, namun dengan bergabung di organisasi ini membuat saya dapat dekat dengan beberapa teman kuliah dari berbeda kelas maupun konsentrasi penjurusan. Di sini mulailah diri ini dapat berbicara lepas tentang apa saja kepada teman-teman dekat. 
Komunikasi juga menjadi hal utama di mana, kita belajar berkomunikasi dengan orang yang lebih tua dan lebih muda dengan kita. Satu hal yang selalu menjadi penekanan adalah respect. Menghargai adalah kunci utama dalam hal ini. 
Selain itu, saya pun mulai belajar tentang managemen organisasi yang paling dasar. Saya mulai mengenal struktur organisasi dan mendapat amanah di posisi yang lumayan membutuhkan energi serta tanggung jawab. Mulailah saya mengenal bendahara dan koordinator dana dan usaha di periode yang berbeda. 
Belajar amanah dan menjaga tanggung jawab sungguh sesuatu yang tak mudah. Ada energi, pikiran, pengertian, dan komunikasi dua arah yang harus berperan. Jika salah satunya lemah akan melemahkan tanggung jawab itu sendiri dan membuat energi harus bertambah berkali-kali lipat untuk mengimbangi kelemahan tadi.
Meskipun begitu tidak membuat diri ini surut akan berkomunitas. Teringat di tahun 2009, saya diperkenalkan dengan sebuat komunitas internasional bernama AIESEC. Sesungguhnya, diri ini agak malu masuk ke sini. Maklum lah, bahasa inggris yang masih my name is … what? why? where? who? how? yes or no? adalah keahlian yang dimiliki. Tak tahu dengan kata lain. Namun, ajakan teman membuat saya masuk dalam organisasi ini meski harus bengong ketika melihat mereka ngobrol.
Ingatan ini masih jelas sekali kala harus mengikuti seminar bertaraf international yang berlokasi di Taman Mini Indonesia Indah. Seminar ini bernama National Leadership Development Seminar (NLDS) 2009. Seminar ini dihadiri oleh beberapa peserta dari negara-negara Asia seperti Jepang, Singapura, dan lain-lain yang sudah tak bisa lagi teringat. 
Kalian bisa membayangkan bagaimana bengongnya saya ketika materi dimulai. Semua serba bahasa inggris. Kadang kala harus menengok kiri bertanya kepada teman “eh, itu artinya apa?” Teman pun kadang bingung menjelasakan dan meresa tidak enak ketika harus berbicara ditengah peresentasi.
Apalagi waktu sesi pengelompokan. Karena kami adalah tim expansion, jadi dikelompokkan dengan International Delegates. “Ya Allah, mampus!” dalam hati ingin rasanya berteriak namun hanya mampu melemparkan senyum. Kami diharuskan membuat yel-yel. Apalah daya saya hanya bisa sebagai pengikut dan tersenyum atau bergeleng kepala jika tiba saatnya diri ini ditanya “Any idea?” Air mata ini rasanya ingin membasahi pipi.
Pulang dari sana, saya pun mulai introkspeksi diri. “Evhy, ini bukan akhir dari segalanya.” Meski dengan segala keterbatasan kemampuan tidak membuat diri ini surut dan berhenti. Segalanya justru berawal dari sini. 
Saya menjadi semangat belajar. Meski tidak mengikuti kursus bahasa inggris namun sedikit demi sedikit kemampuan itu meningkat dengan sendirinya. Mengapa? Hmm.. Teringat detik-detik di mana saya harus membuka kamus atau google translate untuk mentranslate dokumen penjelasan usai seminar. Hal itu harus dipelajari untuk memahami deskripsi pekerjaan, apa saja yang harus dilakukan, dan lain sebagainya. 
Hal yang sama juga saya lakukan ketika harus membalas email. Karena organisasi internasional, email pun datang dalam bahasa Inggris. Misalnya kalimat “saya ingin mengkonfiramasi tentang agenda pertemuan ….” Kalian bisa membayangkan bagaimana diri ini harus mengetikkan kalimat tersebut di google translate lalu meng-copy paste di badan email
Dari sini, banyak kosa kata yang mulai diketahui. Lama kelamaan, membalas email pun lancar. Membaca dokumen 3 lembar pun bisa diselesaikan dalam waktu beberapa menit. Dulu bisa memakan waktu hingga satu jam lamanya bahkan bisa lebih. 😀
Tidak hanya ini yang berkembang di sini. Saya mulai mempelajari tentang manajemen organisasi, talent management, bertemu dengan partner, membuat planning yang lebih efektif, dan masih banyak lainnya. Hal yang paling saya sukai adalah organisasi ini memberikan ruang bagi otak ini untuk mengekspresikan ide dan membuatnya menjadi nyata.

Sekecil apapun idenya benar-benar dihargai. Hal ini yang membuat segalanya menjadi menyenangkan, apalagi ketika ide itu diterima dan dilaksanakan. Jadilah saya yang pendiam ini mulai percaya diri. Dari mengungkapkan pendapat hingga mampu berbicara di depan umum.

Usai berkutat dengan organisasi ini di tahun 2014, mulailah diri ini mencoba mencari jalan lain. Karena kesukaan pada menulis seperti yang sudah dijelaskan pada beberapa tulisan sebelumnya, diri ini pun mencari komunitas yang mampu menyalurkan itu. Masuklah di facebook group Ibu-ibu Doyan Nulis hingga akhirnya memasuki dunia per-blogger-an. Dunia yang saat ini saya jalani dan cukup ditekuni namun tidak juga seratus persen menulis setiap hari.
Setelah memasuki dunia yang satu ini, mulailah diri ini mengenal banyak hal utamanya di Kelas Menulis Kepo dan Blogger Anging Mammiri. Kelas Menulis Kepo adalah kelas di mana kita menuntut ilmu seputar kepenulisan dan melatih kita untuk menulis. Blogger Anging Mammiri sendiri merupakan tempat di mana para blogger dapat saling berbagi informasi, ilmu, rejeki, dan makanan. #eh.
Kedua komunitas tersebut sudah seperti keluarga bagi saya. Bukan hanya soal ilmu yang didapatkan, namun soal pertemanan, kepercayaan, kegalauan, seru-seruan, canda, tawa, lebih percaya diri, dan segala pengalaman berharga yang diberikan. Hingga akhirnya saya bisa seperti sekarang ini. Yang kadang malu-maluin karena PDnya terlalu over.
Ada lagi satu komunitas yang tak kalah bernilainya. Itu adalah Tunanera Sighted Network atau biasa disingkat Tu-SiWork. Komunitas ini adalah kumpulan anak muda yang baik difabel netra maupun non-difabel untuk saling terkoneksi dan berkolaborasi dalam menuntut ilmu. 
Banyak pelajaran yang saya dapatkan. Mulai dari cara berinteraksi dengan difabel netra dan mengajarkan komputer, menulis, bahasa pemrograman, dan bahasa inggris. Kadang rasanya bukan saya yang mengajar, malah diri ini yang belajar banyak. Hingga akhirnya kami dapat mengukir kisah-kisah bermakna di tahun 2018 dalam sebuah buku berjudul “Kumpulan Cerita Tu-Si Work : Menembus Batas Jarak Pandang”. Buku ini berhasil di launching pada tanggal 26 Januari 2019 di acara Tu-Si Work Fest 2019.

Buku tersebut mengajak para pembacanya untuk mendalami dan memahami dunia tunanetra sekaligus dapat melihat sisi lain dari dunia mereka. Keresahan, kegelisahan, dan rasa syukur dapat mungkin akan dirasakan kala membacanya. Seperti salah seorang yang membaca buku ini sambil meneteskan butiran-butiran kecil dari matanya.
Nah, inilah sepenggal kisah dari beberapa komunitas yang pernah saya jalani, dulu dan kini. Sebenarnya masih ada beberapa namun tak sempat tersebutkan. Bukan karena tak memberi manfaat namun sungguh manfaatnya banyak sekali yang tak mampu saya sebutkan satu per satu. Tulisan di atas sudah mewakili sebagian dari manfaat yang diberikan. Kembali lagi kepertanyaan, apa untungnya berkomunitas? Silahkan menyimpulkan sendiri.

Oh iya, untuk menambah lebih banyak referensi kalian dapat membaca tulisan “Membenihkan Asa pada Ladang-ladang Komunitas” dari kak niar. Ada juga tentang “Saya dan Komunitas” dari kak Ayi.

Alhamdulillahirabbil`alamin
Makassar-Wendy’s MARI
31 Januari 2019

0 thoughts on “Komunitas, Lebih dari sekedar Berkumpul

  1. Keren kak sampai terbit bukunya, saya juga termasuk pemalu dan berani di tulisanji.Lucunya lagi saya sering di ikutkan dalam organisasi, termasuk dalam organisasi yang ada di kantor. Tapi kalau ketemu orang ya harus menguasai keadaan dan kadang tergantung siapa juga yang di hadapi. Nanti datang acara hari Minggu kak?

  2. Walaupun kadang dalam berkomunitas melewati beberapa drama tapi hal itulah yang membuat kualitas diri semakin baik. bertemu oramg-orang dengan latar belakang yang berbeda memberikan banyak sudut pandang yang baru dalam melihat sesuatu

  3. Komunitas hanya wadah untuk menyatukan ragam ide yang lebih homogen. Hanya saja komitmen terhadap visi dan misi komunitas harus terkawal dengan baik sehingga ide-ide yang terkumpul menjadi kekuatan besar.

  4. Saya tertipu! Katanya, pada awal tulisan tidak akan panjang tapi nyatanya panjang. Etapi saya larut membacanya hingga tak sadar sudah selesai. Sebagai sesama anak muda pemalu, senang bisa mengenal Evhy.

  5. Selamat kak evhy akhirnya tusiwork event berjalan dengan lancar, kece banget semangat dalam menyebarkan hal-hal bermanfaat dalam cyrcle komunitas anak muda.

  6. Komunitas kalau ketemu yang pas memang banyak gunanya. Selagi muda dan banyak waktu serta belum ada tanggung jawab besar, perbanyaklah berkomunitas. Reguk keuntungannya sebanyak-banyaknya, sebelum nanti ada yang namanya keluarga yang membatasi.

  7. Evi, mushollah di Elektro namanya Adz Dzarrah. Nama ini muncul waktu angkatanku masih maba 🙂
    Sekarang jadi MADZ ya hehe.

    Saya dulu di kampus aktif di HME, biasa isi materi untuk maba. Sampai mau lulus saya masih aktif.

    Pengalaman Evi seru juga yaa.

    Btw maaf ya, saya ndak pernah sreg menuliskan EVHY, sukanya EVI, Sama kayak AINHY, saya tulis AINI, sesuai cara sebutnya. 🙈

  8. Bergaung di komunitas membuat saya menemukan hal-hal baru, di komunitas, saya mendapatkan wadah untuk menyalurkan ide dan inspirasi,d engan komunitas pula, saya bisa mengembangkan potensi yang dimiliki. Walau saat ini, saya merasa belum maksimal, tapi akan ttp berusaha semaksimal mungkin di komunitas

  9. Organisasi mauoun komunitas merupakan wadah untuk kita menimba ilmu yangbkadang tidak di ajarkan di bangku kuliah.. Selain meambah teman, ada beberapa keterampilan yang di ajarkan di komunitas dan organisasi sperti keterampilan berbicara depan umum, kepemimpinan, dan soal administrasi antar orginasasi dan instansi.itu yang saya dapat di komunitas dan organisasi.

  10. Paling mengharukan pas baca tman-tman kmunitas Tunanera Sighted Network bisa mengeluarkan karya kumpulan tulisan dari prespektif mereka. Itu bukunya bisa dibeli dmana kak? Sya merasa trtarik buat baca. Hehe

  11. Saya setuju dengan pendapat Daeng Ipul, berkomunitaslah selagi masih muda karena itulah nanti yang akan menjadi bekal di masa tua. Kalau sudah tuami baru mau mulai, sudah sulit apalagi kalau sudah berkeluarga dan punya anak.

  12. aku terhanyuh loh kak liat kegiatan sosialnya bolehlah aku suatu saat dipanggil untuk berbagi sempat mungkin aja ada yang bisa saya lakukan dengan apa yang telah saya tau.. hehhee

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top