Kala Bertemu Para Pembakti Bangsa

Kala Bertemu Para Pembakti Bangsa

Malam itu cukup was-was. Kali ini dapat undangan untuk menghadiri acara persamuhan pembakti desa. Besok kami sudah harus berangkat, namun tiket belum juga di tangan. Banyak yang tanya “kapan berangkat?”. Tak bisa menjawab banyak selain “entahlah”.

Selamat datang di Persamuhan Para Pembakti Bangsa
Selamat datang di Persamuhan Para Pembakti Bangsa

Prasangka waktu itu cukup tinggi. Apalagi saya belum paham, kegiatan persamuhan ini apa? Apa yang akan kami lakukan? Saya pun belum ada gambaran. Yang pasti ada sekitaran 300 lebih orang yang akan hadir yang berasal dari 24 provinsi di Indonesia.

Sesampai di sana, banyak hal yang masih membingungkan khususnya registrasi dan pembagian kelompok yang cukup menyita waktu pencarian. Terlepas dari itu, banyak hal menarik di sini.

Baru kali ini saya berkunjung ke Anyer, Serang-Banten. Suasana di sini cukup tenang, apalagi kami di tempatkan di Hotel Marbella Anyer di pinggir laut yang terbentang luas. Tempat yang cukup pas untuk menghilangkan penat. Bisa juga dibilang cocok tuk liburan. Namun, bukan ini intinya.

Kami di sini dipertemukan untuk saling mengenal dan berbagi pengalaman. Barangkali ada kerjasama yang dapat terjalin. Ada solusi yang bisa dibawa pulang untuk masalah-masalah desa yang dihadapi. Ini semua tentu demi Indonesia yang makin baik dan maju.

Sambutan kepada para peserta Persamuhan
Sambutan kepada para peserta Persamuhan

Sekamar dengan salah satu pembakti desa asal Jambi membuat kami besa lebih banyak berbagi cerita dan mengenal satu sama lain lebih jauh. Namanya Debbi. Ia adalah seorang guru yang mengabdikan diri mengajak anak-anak SMP dengan intelektual yang kurang.

Setiap kali membahas tentang mereka, beliau begitu bersemangat. Saya pun mendengar dengan antusias. Ia menceritakan bagaimana anak-anak ini belajar dan berinteraksi. Salah satu hal yang paling membekas adalah mereka sering mengulang-ulang pertayaan yang sama, seperti jam berapa kita pulang?

Rasa kesal bisa saja menghampiri. Namun, memang butuh hati yang lapang untuk bisa menemani anak-anak ini. Terlepas dari kurangnya daya ingat, mereka anak-anak yang cukup kreatif.

Hari ke dua di Anyer, Debbi bercerita tentang seorang anak yang sedang mengikuti fashion show di Jambi. Anak ini merancang pakaiannya sendiri yang terbuat dari barang-barang bekas sesuai dengan tema fashion show. Mendengar itu, saya tak kuasa membendung rasa kagum dan melontarkan kata “wow”.

Dalam kehidupan tak pernah lepas dari perkara cinta. Namun, takkan kubahas panjang di sini. Yang pasti, ada pernyataan yang selalu terngiang di kepala kala Ia bercerita tentang anak laki-laki yang galau akan cinta. Sang guru mengatakan untuk fokus belajar dan tidak memikirkan tentang perempuan. Seorang anak perempuan tiba-tiba nyeleuk “Ibu, jangan larang-larang. Karena wanita adalah masa depan laki-laki.”

Pembukaan dengan Rampak Beduk
Pembukaan dengan Rampak Beduk

Banyak kisah menggelitik lainnya yang ia ceritakan yang tak dapat diceritakan ulang. Namun, cerita-cerita itu memberikan gambaran bahwa tak ada alasan untuk tidak mensyukuri setiap hal yang kita punya. Karena masing-masing dari kita dikaruniai kelebihan dan kebaikan.

Sama halnya dengan kehadiran kita yang telah terpilih untuk menyaksikan keragaman budaya dalam satu tempat yakni persamuhan para pembakti desa. Sayang, empat hari cukup singkat untuk menyapa semuanya. Hanya sempat bercakap-cakap dengan kakak-kakak dari Jambi, Riau, Papua, Kalimantan Utara, Ciamis, Jawa Timur, Palu, Sigi, dan Palembang. Semoga kedepannya bisa bertemu kembali dan bertemu dengan lebih banyak teman baru.

Diskusi Kebangsaan
Diskusi Kebangsaan

Hal menarik lainnya adalah pertunjukan budaya yang dipersembahkan. Salah satunya kegiatan Beduk Baris. Beduk di wilayah Banten sudah menjadi seni kolektif yang populer disebut Rampak Beduk. Irama dan pukulan beduk seakan memecah suara lautan, nadanya memenangkan hati.

Terima kasih BPIP sudah mempertemukan dan menyatukan kami. Kami diberikan kesempatan untuk berbagi masalah dan belajar mendengarkan. Tak lupa pula rasa terima kasih akan persembahan seni tradisional yang spektakuler dan tak terlupakan.

Mendengar banyak kisah dan masalah di desa masing-masing. Satu masalah yang dirasakan bersama bahwa saat ini budaya matrealistis cukup berkembang di masyarakat. Oleh karenanya, aktifitas gotong royong kadang sulit dilakukan jika tidak ada embel-embel materi yang didapatkan.

Melihat hal ini, dikelompok kami menyarankan suatu kampanye menggunakan suatu hestek. Para pembakti desa dapat mengkampanyekan tentang indahnya gotong royong dan mengupload konten positif tentang aktifitas-aktifitas gotong royong yang dilakukan. Dengan adanya kampanye ini, diharapkan pola pikir masyarakat dapat diubah sedikit demi sedikit. Tentu saja, hal ini tak lepas dari aksi-aksi nyata yang dilakukan oleh para pembakti di wilayah masing-masing.

Rampak Beduk di Titik Nol Km. Pulau Jawa
Rampak Beduk di Titik Nol Km. Pulau Jawa

Semangat para pembakti Indonesia. Semoga diberikan kesehatan dan keberkahan selalu untuk setiap kebaikan yang dilakukan. Semoga budaya gotong royong ini juga dapat dilaksanakan oleh pemerintah sebagai orang-orang terpilih yang akan menjadi contoh bagi masyarakat.

5 thoughts on “Kala Bertemu Para Pembakti Bangsa

  1. acara BPIP dan Japungnas meluruhkan stigma-stigma yang ada, baik ttg kelas sosial, profesi, suku, dsb. Itulah sebuah perjumpaan keragaman yg menyatukan. Semoga ada follow up

  2. Dari sekian banyak manusia kayanya kita tak sempat bersua ya mbak, tapi memang awalnya kita sempat tak tahu akan jadi berangkat atau tidak. Aku aja baru packing di pagi hari saat akan berangkat hahahaha tapi ternyata acaranya cukup seru yaaa, salam kenaaal

  3. Waktu dengar temen-temen pembakti cerita, soal kampungnya, soal cara mereka bikin keren kampungnya, aku langsung optimistis sama Indonesia.

    Masih banyak yang sayang sama negeri ini. 😀

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back To Top